Ternyata yang masuk ke kelas bukan guru matematika mereka melainkan guru piket yang datang memberi pengumuman bahwa guru matematika mereka berhalangan hadir karena sedang ada urusan mendadak.
"PRnya dikumpulin gak, pak?", tanya Rony, salah satu siswa di kelas itu.
"Tidak usah, buat belajar saja", jawab Pak Hadian.
Terdengar suara keluhan dari setiap siswa.
"Yaaah, udah susah-susah ngerjain, gak dikumpulin lagi", gerutu Seno yang sudah rela datang pagi-pagi untuk menyalin PR dari Tuti.
"Yawdahlah, ga sia-sia kok kita ngerjain PR. Kan kita jadi dapet ilmunya", timpal Willy bijak sambil masih memegang komik One Piecenya."Dari pada gak ada kerjaan"
"Yah mendingan gw maen Down of War", balas Syukri.
"Halah, kalah mulu aja lu maen gituan", Willy ngeledek.
Di tengah-tengah gemuruh suara keluhan dari siswa-siswa Pak Hadian angkat bicara,"Sudah-sudah, Bapak absen dulu ya."
Pak Hadian pun mulai mengabsen satu per satu.
"Muhammad Syukri"
"Muhammad Syukri"
Sebelum Pak Hadian mengulangnya sampai 3 kali, Willy buru-buru menepuk punggung Syukri yang duduk di sebelahnya. Telinganya sedang tertutup oleh headset yang terpasang ke mp3 player."Nama lu di panggil tuh"
Syukri pun langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil berkata,"Hadir pak!Hadir!"
"Hmph! Bau man!", ledek Ijul yang duduk persis di belakang Syukri.
"Lah, Willy yang duduk sebelah gw aja ga kbauan nih," Sykri membela diri.
"Kebauan sih sbnernya, tapi gw diem-diem aja demi menjaga prasaan lu."
"Nah itu lu ngomong Will..."
"Yusuf Wali"
Mendengar namanya dipanggil, Willy pun segera mengangkat tangannya, tapi tidak tinggi-tinggi agar tidak balik diledek Syukri.
"Hmph!..."
"Apa!?", Willy mengangkat tangannya dan mendekakannya ke muka Syukri.
"Ketek gw mah ga bau man", bela Willy.
"Sial, gw langsung ga nafsu makan", balas Syukri.
Selesai mengabsen Pak Hadian lembali memberi pengumuman,"Pak Albert nitip pesan ke saya, kalian disuruh untuk mengerjakan latihan 2 halaman 42 tentang integral dan dikumpulkan hari ini juga. Paling lambat saat pulang sekolah nanti. Kalau sudah dikumpulkan ke ketua kelas dulu ya,kemudian baru berikan ke saya"
Lagi-lagi terdengar keluhan dari sana-sini.
"Tugas ini untuk menambah nilai ujian kalian", lanjut Pak Hadian.
Tak lama kemudian terdengar suara kertas dibolak-balik. Para siswa mulai mencari tugas yang dimaksud.
"Ini mah gampang man", Syukri menyombong.
"Laga lu sepa bneeeer. Awas ya nanya gw", ancam Willy.
"Iyeeee..."
"Bapak tinggal dulu ya! Kalian kerjakan tugasnya dengan tertib. Jangan ada yang keluar kelas"
"Ya Paaaak", jawab siswa-siswa kompak.
Walapun Pak Hadian sudah berpesan begitu, tetap saja banyak yang keluar kelas. Ada yang ke kantin, atau hanya duduk-duduk di depan kelas.
Willy melanjutkan membaca komiknya, sedangkan Syukri keluar kelas sambil mendengarkan lagu-lagu dari mp3nya.
Keadaan kelas 2E menjadi sepi. Hanya beberapa siswa yang tetap di kelas untuk mengerjakan tugas. Willy tetap di kelas tetapi masih asyik membaca komik.
Dua puluh menit kemudian..........
bersambung
Anak Biasa (Part 2)
Labels: Cerpen |
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment