Anak Biasa (Part 6)

Willy langsung buru-buru mengambil handphonenya dan membuka sms, berharapa itu adalah sms balasan dari Flory. Tetapi bukan, ternyata sms itu berasal dari mamanya yang mengingatkan agar Willy makan di rumah saja. Setelah itu Willy langsung mengambil kunci motornya, lalu bergegas pulang sambil menahan rasa cemas. Kurang dari dari dua puluh menit kemudian Willy sudah sampai di rumah.

"Assalamualaikum"

"Wa'alaikum salam, cuci tangan dulu trus makan ya. Mama udah angetin nasi dan sayurnya", kata mama.

"Ya ma", jawab Willy sambil mencium tangan mamanya."Papa belum sampe, ma?"

"Belum, mungkin sebentar lagi. Kamu tau sendiri kan, jam segini jalanan lagi macet-macetnya orang pulang kantor".

Willy makan di meja makan, di sebrangnya mamanya sedang duduk di sofa yang ada di depan TV. Dari tempatnya duduk, Willy juga masih bisa menonton TV dengan jelas. Lima belas menit kemudian Willy selesai makan.

"Ma, Willy pinjem telfon ya"

"Mau telfon siapa? Tumben ga pake sms aja"

"Flory ma, dari pulang sekolah tadi ga ada kabar, di-sms juga ga bales. Makanya ni Willy mau nelfon ke rumahnya."

"Oo, yaudah pake aja, tapi jangan kelamaan. Takutnya ada telfon penting."

"Ya ma, beres. Asal tau kabar Flory aja ko."

Willy mulai menekan nomor-nomor pada pesawat telfon. Kombinasi nomor yang dia input membawanya tersambung ke pesawat telfon yang ada di rumah Flory. Namun sebelum terdengar apapun dari gagang telfon yang menempel di tellinganya, Willy mendengar handphonenya berdering menandakan ada panggilan masuk. Willy langsung berlari menuju arah suara dering handphonenya. Pada layar handphonenya tertera "#Flory's mom" diiringi nada dering dan lampu handphone yang berkedap-kedip. Willy cepat-cepat mengangkat telfonnya.

"Assalamualaikum"

"Wa'alaikum salam", jawab suara dari orang yang ada di 'sebrang sana'."Willynya ada?"

"Ya, dengan saya sendiri, tante."

"Oh, Iya Will, ini lho si Flory dari tadi minta tante telfonin kamu."

"Lho emang Flory knapa, tante? Ko Flory ga telfon sendiri aja. Tadi saya sms juga, tapi ga dibales"

"Iya, soanya Flory belum kuat mencet keypad hp. Tuh orangnya lagi tidur-tiduran di kamar nomer 209 lantai 4 Rumah Sakit Internasional Jakarta.", jawab mamanya Flory santai seakan tidak sedang terjadi apa-apa.

"Hah!? Emang Flory sakit apa tante? Tadi keliatannya sehat-sehat aja."

"Wah, kamu ngomong langsung ama Flory aja nih ya."

Mamanya Flory mengarahkan handphonenya ke telinga Flory.

"Hai Illy...", sapa Flory seakan tak terjadi apa-apa juga.

"Flory knapa?", tanya Willy cemas. "Ko tiba-tiba dirawat di rumah sakit."

"Tenang dong Illy, Flo ga apa2. Kata dokter, cuma perlu istirahat aja beberapa hari."

"Ga apa-apa tapi ko mesti dirawat berhari-hari gitu?"

"Ga tau, tadi pas sampe rumah tiba-tiba lemes, trus Flo jatoh ke lantai, trus ga inget apa-apa lagi. Bangun-bangun udah ada mama&papa lagi nungguin Flo di samping tempat tidur."

"Ya ampun, padahal tadi udah makan siang juga kan. Yaudah, Ly ksana ya..."

"Ga usah, udah malem, Trus juga bsok kan Illy msti sekolah trus latian sorenya."

"Ga apa-apa ko. Ly kan cowo, masa kalah ama malem. Bsok sekolah & Latian juga gampang itu mah."

"Tapi jam besuknya juga dikit lagi abis. Nanti Illy sampe sini malah ga boleh masuk."

"Ga masalah, yang penting Ly sampe sana dulu. Tunggu sebentar ya, sayang.", baru kali itu Willy menambahkan embel-embel 'sayang', menandakan betapa sayang dan cemasnya Willy akan keadaan Flory yang tiba-tiba jatuh sakit itu. Setelah menyelesaikan pembicaraan, Willy langsung mengambil kunci motor, berpamitan dengan mamanya, lalu langsung menuju Rumah Sakit Internasional Jakarta.

Perjalanan memakan waktu setengah jam. Willy sampai di rumah sakit tepat 10 menit sebelum jam besuk habis. Willy langsung menuju kamar dimana Flory dirawat, di sebelah kiri pintu masuk ada satu kamar mandi, kemudian satu tempat tidur dan sebuah TV di depan tempat tidur. Di sana ia bertemu mama & papanya Flory yang sedang duduk di sisi tempat tidur Flory sambil menonton siaran TV.

"Assalammualaikum"

"Wa'alaikum salam, ", jawab Flory dan kedua orang tuanya.

"Willyyyyy!!!", teriak Flory riang

"Tuh jagoannya udah dateng.", kata mamanya Flory.

"Kayanya malem ini Flory langsung bisa pulang nih.", ledek papanya Flory.

"ih papa nih, dari tadi juga Flory maunya cepet-cepet pulang."

Melihat Flory yang masih tetap ceria namun kelihatan pucat, Willy sedikit lega. Setidaknya ia tahu kabar dan keadaan Flory.

"Trus malem ini siapa yang nemenin Flory di sin, Om?", tanya Willy.

"Wah, ga tau nih Will, om&tante kan besok mesti ke kantor. Kakanya juga malem ini lagi lembur di kantornya. Kamu mau nemenin Flory di sini."

"Ah yang bener aja, om. Masa Willy, Willy kan belum jadi keluarga. Nanti apa kata orang, lagian juga apa boleh ama petugas rumah sakitnya."

"Udahlah, ga apa-apa. Om dan tante percaya ko sama kamu. Udah pada gede kan, tau mana yang baik, mana yang buruk. Tapi itu juga kalo kamu mau, Om juga ga mau ngerepotin kamu."

"Yaudah deh kalo gitu, Willy bersedia, om."

"Tapi besok kan Illy sekolah.", kata Flory.

"Ga apa, bsok pagi-pagi abis subuh Ly langsung pulang."

"Yaudah, kalo gitu om dan tante lapor dulu ke suster jaga, trus langsung lanjut pulang y."

"Ya om, makasi banyak."

"Baik-baik ya, kamu juga kabarin orang tua kamu dulu, Will", tambah mamanya Flory.

Kemudian orang tua Flory pulang dan tinggal Flory dan Willy di kamar, bersama suara TV.


bersambung

Anak Biasa (Part 5)

Tak ada rasa curiga sedikitpun dalam hati Flory. Kemudian merekapun kembali ke kelas masing-masing dan menjalani KBM(Kegiatan Belajar Mengajar) seperti biasa. Saat jam pulang, Willy sudah menunggu di depan kelas Flory. Ia akan mengantar Flory ke depan sekolah.

"Flo...", begitu panggilan khas Willy ke Flory. Selain untuk menyingkat kata, Willy adalah orang pertama yang memanggil Flory dengan panggilan itu. Orang lain biasanya menyingkat nama Flory dengan panggilan di suku kata belakang namanya.

"Nanti kalo udah sampe kabarin y", pinta Willy

"Hmm, ga mau ah", jawab Flory."Haha...haha..."

"Okeiy, ga juga gapapa. Weeeek...", balas Willy agak kesal.

"iiiih, gitu aja marah"

"Ga marah ko, cuma kesel aja. haha...haha... Bcanda ko. Yaudah, abis angkot yg ini Flo naik aja y, nanti kburu kesorean"

"Ya Illy", jawab Flory sambil memasang senyum manisnya."Ly smangat y latiannya", tidak hanya Willy, Flory juga punya panggilan khas untuk Willy. Selain sebagai panggilan khas, berfungsi juga untuk menghemat suku kata.

Beberapa saat kemudian Willy memberhentikan angkot untuk Flory.

"Dagh Flo, hati-hati y. Kabarin kalo udah sampe"

"Dagh Illy juga, sip, beres bos", jawab Flory sambil melambaikan tangan.

Setelah angkot yang ditumpangi Flory menghilang dari pandangan, Willy kembali masuk ke sekolahnya dan menuju kamar mandi laki-laki. Di sana sudah ada Syukri yang sudah selesai shalat ashar dan berganti pakaian basket.

"Yang laen mana, Kir", tanya Willy.

"Udah di lapangan lagi streching", jawab Syukri. "Buruan lu, dikit lagi mulai latiannya"

"Iye gw shalat dulu"

Sepuluh menit kemudian Willy sudah di pinggir lapangan basket melakukan streching. Kebetulan hari ini latian khusus untuk persiapan menghadapi turnamen basket tingkat Kotamadya. Semasa di SMP Willy dan Syukri adalah duet yang sering kali merepotkan lawan-lawan bertanding mereka. Mereka berdua telah beberapa kali membawa tim basket sekolahnya menjuari turnamen-turnamen bergengsi. Walaupun postur tubuh mereka tidak tinggi kekar seperti layaknya pemain basket profesional, tetapi kecepatan dan men-drible bola sudah cukup merepotkan lawan-lawannya. Syukri pernah menjadi MVP(Most Valuable Player) pada suatu turnamen, sedangkan Willy sering kali menjadi top scorer di beberapa turnamen. Pernah suatu ketika Willy tidak dapat bermain karena cedera, tetapi Syukri dan anggota tim lainnya masih dapat memenangkan pertandingan. Hanya saja saat itu Syukri harus bermain ektra keras, untuk dapat membuat teman-temannya mencetak poin. Saat di SMA skarang pun, Syukri dan Willy tetap menjadi andalan tim basket SMA Tunas Indonesia. Syukri terkenal dengan gaya bertahannya yang tidak mudah goyah dan penyarangan yang simple. Tidak mudah bagi playmaker-playmaker lawan untuk melewatinya ataupun memberikan passing kepada teman setimnya. Sedangkan Willy, sangat terkenal dengan kemampuan three-pointnya yang mendekati sempurna. Kelenturan saat melepas bola dari tangannya dan akurasi tembakan yang tinggi sering menyelamatkan timnya dari situasi genting. Cara bermainnya yang cerdas pun dapat mengacak-acak pertahanan lawan.

Latihan hari itu cukup melelahkan. Mereka selesai sebelum magrib. Sekitar dua jam setelah Willy mengantarkan Flory ke gerbang sekolah. Willy membuka tasnya lalu mengambil handphonenya, melihat apakah ada sms dari Flory. Ternyata tidak ada tanda-tanda Flory memberi kabar. Tumben sekali hal ini terjadi, biasanya begitu sampai di rumah Flory langsung mengabari Willy. Tapi kali ini berbeda. Tidak ada sms dari Flory yang masuk ke handphone Willy. Kemudian Willy mencoba untuk mengirim sms ke Flory. Sepuluh menit, duapuluh menit, sampai setengah jam tidak ada balasan juga. Padahal Willy tahu bahwa Flory punya pulsa. Tapi kenapa belum ada kabar dari Flory sampai sekarang?Willy bertanya-tanya serta merasankan cemas yang teramat sangat. Beberapa saat kemudian handphone Willy bergetar...

bersambung

Luffy's Bounty

Suatu Saat

Seandainya suatu saat saya bisa menerbitkan buku atau novel atau apalah namanya itu yang isinya adalah cerita dari 'Anak Biasa' yang kini masih bersambung jalan ceritanya, saya sudah mendesign covernya. Sebenarnya cuma iseng sih dan cuma ingin menampilkan hasil karya saya yang pas-pasan ini.




Saya baru membuat untuk cover depannya, itu juga cuma iseng. Designnya juga sangat sederhana. Tak ada efek apa-apa. Tapi memang itulah adanya. Kesederhanaan

Anak Biasa (Part 4)

Willy tak bergeming seakan tak mendengar apa-apa. Pandangannya masih tertuju ke sebrang meja dimana gadis kelas 2G tersebut duduk. Seperempat detik sebelum Flory membentaknya lagi...

"Ya Flory"

"Willy lagi mikir apa??", tanya Flory polos. Sepertinya Flory tidak mengetahui Willy kemana pandangan Willy tadi.

"Gak mikir apa-apa ko. Bengong doank", jawab Willy seadanya.

"Ada Flory disini ko Willy malah bengong sih?"

Willy diam 'tak menjawab.

"Mending ajak ngomong cewenya nih", lanjut Flory.

"Oh oke", Willy mulai bicara lagi.

"Flory apa kabar?Sehat?"

"Ah, basi deh", jawab Flory malas.

"Hihihi, abis apa donk?", Willy malah balik nanya.

Flory belum sempat menjawab ketika bel masuk berbunyi kembali. Tapi mereka berdua tidak langsung masuk ke kelas. Siswa-siswa yang ada di kantin juga masih menikmati makanan&minuman mereka masing-masing, hanya saja dengan kecepatan yang berbeda dengan sebelum bel berbunyi. Setelah menghabiskan jusnya, Willy dan Flory berjalan meninggalkan kantin. Mereka melewati kelas Willy, tapi Willy tidak berbelok masuk ke kelasnya melainkan mengantarkan Flory sampai ke kelasnya.

"Daagh, Flory"

"Dagh juga, Illy", balas Flory dengan nada sok imut.

Willy langsung menuju kelasnya dan melanjutkan kegiatan belajar mengajar seperti biasa. Kira-kira satu setengah jam kemudian, jam istirahat siang pun tiba. Setelah shalat Zuhur Willy kembali mengajak Flory makan siang. Mereka pun ke kantin lagi. Suasana kantin kini lebih ramai dan pengap dari pada tadi karena banyaknya siswa yang mengantri untuk membeli makan siang. Maklumlah berhubung kantin di sekolah Willy hanya ada satu.10 menit kemudian Willy dan Flory sudah mendapat meja dan hidangan masing-masing. Willy dengan ketopraknya dan Flory dengan nasi+ayam gorengnya.

"Slamat makaaan", celetuk Willy.

Mereka pun mulai menikmati hidangannya masing-masing di tengah hiruk-pikuk kantin siang itu, bersama udara yang pengap seakan kadar oksigen di udara tinggal sedikit.

"Ko ga bengong lagi?", sindir Flory ketika Willy hendak membuka mulut untuk mengajaknya ngobrol.

"Sial, keduluan...", Willy pura-pura kesal."Critanya nyindir nih???"

"hahaha... kesel tuh keduluan."

"nggak sih, byasa aja", Willy ngeles."Nanti Flory pulang ama siapa?"

"Gak tau, mungkin sendiri. Biasanya kalo ga bareng Willy juga sendiri"

Sore itu Willy tidak bisa pulang bareng Fllory karena ada jadwal latian rutin basket.

"Ya mungkin aja kali ini ada barengannya. Willy kan khawatir kalo Flory pulang sendiri."

"Hmm, mulai deh. Belajar ngegombal dari mana?", ledek Flory."Biasanya juga biasa aja."

"Ih beneran, ko Flory ga percaya gitu sih.", Willy memasang wajah sedih.

"Iya iya percaya kok. Makasi ya udah khawatirin Flory", Flory berkata sambil tersenyum dan memegang tangan Willy.

Di saat yang bersamaan, di kejauhan Willy melihat sosok siswi manis dari kelas 2G itu. Pandangan Willy kembali tertuju padanya yang sedang berjalan memasuki kantin.

"Willy!!!", Flory hampir berteriak kemudian langsung berbalik badan dan melihat ke arah pandangan Willy tertuju tadi. Flory tidak menemukan apa-apa di sana. Hanya segerombolan anak kelas satu yang sedang duduk berbincang-bincang di meja dekat pintu masuk kantin.

Dua kali sudah Willy kepergok memandang ke arah yang 'tak jelas. Flory pun mulai curiga.

"Willy ngebengongin apa?", tanya Flory.

"Willy gak bengong, Flory", jawab Willy. "Willy lagi mikir..."

"Terus mikir apa?"

"Willy mikir, gimana kalo Willy gak ketemu Flory. Mungkin sekarang Willy cuma makan sendiri, gak ada yang nemenin, gak punya banyak temen kaya sekarang, gak punya wawasan yang kaya sekarang.", Willy berhasil mengalihkan apa yang Flory curigakan.

"Ya ampun, ko sampe segitunya. Flory juga sama kok. Kalo gak sama-sama Willy mungkin skarang Flory lagi di kelas, duduk ngelamun gak jelas."

"Flory jangan ninggalin Willy ya."

"iya Willy, Insya Allah Flory akan selalu ada buat Willy."

Sebelum pembicaraan berlanjut, bel masuk berbunyi.

"Yaudah, cepetan yuk makannya. Flory jangan sampe ga habis lho makannya."

Flory melanjutkan makan dan Willy baru saja selesai. Selagi Flory konsentrasi menghabiskan nasi+ayam gorengnya, Willy mencari-cari kemanakah perginya siswi kelas 2G tadi. Willy tidak menemukannya di sudut manapun.

Selesai menghabiskan hidangannya, Flory memandangi Willy yang sedang celingak-celinguk...

bersambung